MENANGGAPI TUDINGAN PUNGLI DI KUA (Jawaban Bagi Para Pengkritik KUA)

(Kotabaru-Bamega) Keberadaan Kantor Urusan Agama (KUA) merupakan bagian dari institusi dari pemerintah daerah yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebagai ujung tombak dari pelaksanaan tugas umum pemerintahan, khususnya di bidang urusan agama Islam, KUA telah berusaha seoptimal mungkin dengan kemampuan dan fasilitas yang ada untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Realita dilapangan menunjukkan masih ada sebagian masyarakat yang belum memahami tugas dan fungsi KUA. Akibatnya tidak heran, ada kesan bahwa tugas KUA hanya tukang baca doa dan menikahkan saja. Belum lagi adanya tudingan miring yang dialamatkan kepada KUA, melakukan pungutan liar biaya nikah, dengan pasal gratifikasi. Sesungguhnya KUA disamping mempunyai tugas pokok seperti pencatatan pernikahan, KUA juga mempunyai tanggungjawab lain seperti BP4, gerakan keluarga sakinah, zakat dan wakaf, kemasjidan, pembinaan pangan halal, kemitraan umat, ibadah sosial, juga kegiatan lintas sektoral, dan lain-lain.

DSC01702 (Large)Berkaitan dengan tugas pokok pencatatan pernikahan masyarakat sering tidak bisa membedakan antara biaya pencatatan nikah dengan biaya nikah. Biaya pencatatan nikah memang Rp.30.000. Tapi biaya nikah bisa mencapai ratusan juta atau bahkan bisa milyaran rupiah (seperti para artis dan anak pejabat) disertai live/siaran langsung dari televisi. Besar kecilnya biaya nikah tergantung kemampuan orang masing-masing. Biaya nikah meliputi cetak undangan, konsumsi para tamu, sewa gedung, sewa tenda, soundsystem, sewa hiburan, dan lain-lain, termasuk biaya pencatatan nikah. Pencatatan nikah hanyalah salah satu kegiatan dari seluruh rangkaian upacara pernikahan. Tugas pencatatan nikah itu dilakukan oleh Petugas Pencatatan Nikah (PPN/Penghulu). Pencatatan nikah sendiri adalah ujung dari sebuah rangkaian kegiatan yang menjadi kewajiban PPN/Penghulu. Kegiatan itu diawali dengan proses pendaftaran, pemeriksaan kelengkapan berkas administrasi, pemeriksaan kelengkapan syarat dan rukun pernikahan, pengumuman kehendak nikah selama rentang waktu 10 hari kerja, kursus calon pengantin/penasehatan, baru kemudian pencatatan nikah setelah akad nikah. Tentu saja, pencatatan itu bisa dilakukan jika tak ada halangan untuk dilakukan akad nikah.

Meskipun PPN/Penghulu hanya bertugas untuk menghadiri, mengawasi, dan mencatat sebuah akad pernikahan, namun kenyataannya banyak juga tugas-tugas lain yang dilakukan. Tugas-tugas lain itu seperti menjadi pembawa acara, sambutan tuan rumah, khutbah nikah, mewakili wali untuk melaksanakan ijab qobul akad nikah dengan pengantin laki-laki, sampai pembaca doa. Padahal tugas-tugas itu bukanlah kewajiban dari PPN/Penghulu dan tak dibiayai oleh negara. Namun seringkali dilapangan, tugas-tugas itu seolah merupakan kewajiban PPN/Penghulu. Ketika petugas diundang ke tempat akad, masyarakat menganggap bahwa petugaslah yang mempunyai kewajiban untuk melaksanakan ijab qobul dengan pengantin laki-laki. Akad nikah itu sendiri mestinya dilaksanakan di Balai Nikah KUA dan pada saat jam kerja, sehingga pernikahan bisa langsung dicatat oleh petugas. Namun realitas dilapangan, akad nikah justru banyak dilakukan di luar KUA dan di luar jam kerja, bahkan ada yang harus menyesuaikan kehendak orang tua pengantin seperti nikah malam, tengah malam, sore hari, ada yang pakai hitungan jam, belum lagi menyesuaikan adat-istiadat yang cukup memakan waktu sesuai etnis/sukunya dan lain-lain. Sementara biaya transportasi petugas ke tempat akad nikah tidak di biayai oleh negara. Tak ada biaya perjalanan dinas dari negara bagi setiap pelaksanaan akad nikah di luar kantor dan di luar jam dinas. Demikian sedikit tanggapan dari kami.

Kepada para pengkritik KUA, inilah sepenggal syair  lagu “Ghibah” dari H.Rhoma Irama :

Mengapa kau suka membukakan aib sesama

Kesana kemari kau cerita keburukannya

Semut yang di seberang lautan jelas kelihatan

Tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan

Oh keterlaluan

Janganlah kau sibuk mencari kelemahan orang

Periksa dirimu masih adakah kekurangan

Semut yang di seberang lautan jelas kelihatan

Tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan

Oh keterlaluan

(/Kir – Redaksi)

3 responses to “MENANGGAPI TUDINGAN PUNGLI DI KUA (Jawaban Bagi Para Pengkritik KUA)

      • biarlah org mengunjingkan biaya nikah,org bicara biar se bebas2nya, toh nanti akan diminta pertanggung jawabannya, bagi para PPN sepertinya kita di anaktirikan,mungkin dg motor kreditan baru, dinggap hasil pungli,melaksanakan tugas jalan kaki terlambat 5 mnt aja dihujat,mengijabkab kewajiban wali,kita yg diminta,mau nikah memang tdk memenuhi syarat kita tolak dianggap mempersulit,camat eselon III PPN eselon IV/b PNS lainnya hari libur,kita melaksanakan tugas,instansi lain tiap tahun dpt jatah baju,sepatu,dll. kita pake sepatu boot itupun nyicil di koperasi.yaa..Allah Lindungilah HambaMu ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s