SOSIALISASI PENCATATAN NIKAH DAN PEMBINAAN MAJELIS TA’LIM NURUL HUDA DI DESA SANGKING BARU KEC.KELUMPANG SELATAN KAB.KOTABARU

Dalam rangka lebih meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya nikah yang tercatat, maka pada hari Minggu tanggal 02 Juni 2013, maka KUA Kec.Kelumpang Selatan bekerja sama dengan Majelis Ta’lim Nurul Huda kembali melaksanakan Sosialisasi PMA No.11 Tahun 2007 tentang Pencatatan Nikah di Desa Sangking Baru.

pencatatan nikah“Meskipun undang-undang tentang perkawinan sudah diberlakukan 39 tahun yang lalu, namun praktik perkawinan yang melanggarnya terus saja berlangsung. Bahkan ada gejala terjadi perebutan otoritas antara ulama dan negara, sehingga terjadi dualisme pemahaman hukum di masyarakat. Salah satunya adalah nikah di bawah tangan atau yang umum di sini disebut nikah sirri. Di dalam UU Nomor 1 Tahun 1974  disebutkan perkawinan harus dicatatkan yaitu PPN untuk orang Islam dan Kantor Catatan Sipil untuk non Islam. Undang-undang ini merupakan hasil penggodokan yang melibatkan unsur ulama yang ahli dibidangnya, salah satu diantaranya adalah KH.Bisri Syansuri (kakek Gus Dur dari pihak ibu) yang merupakah ahli fiqih terkemuka saat itu. Jadi dapat dikatakan undang-undang ini adalah produk ijtihad ulama Indonesia. Ketika produk hukum negara dilahirkan melalui ijtihad ulama dan untuk kemaslahatan rakyat, produk itu menjadi produk syariat juga. Ada kaidah yang mengatakan “tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuth bi al-maslahah” (tindakan pemimpin/pemerintah untuk kepentingan rakyatnya adalah guna mewujudkan kemaslahatan). Pendapat yang mengatakan Islam tidak mengatur pencatatan untuk perkawinan harus dikaitkan dengan perhatian Islam yang besar pada pencatatan setiap transaksi muamalah seperti utang piutang, jual beli, sewa menyewa dll (QS.Al-Baqarah: 282). Bila untuk urusan muamalah seperti ini saja pencatatan dilakukan, apalagi untuk urusan sepenting perkawinan, dalam ushul fiqih di sebut dengan qiyas aulawi. Alasannya perkawinan akan melahirkan hukum-hukum lain seperti hubungan persemendaan, pengasuhan anak dan hak waris” demikian disampaikan Abdul Haliq, S.Ag (kepala KUA Kec.Kelumpang Selatan).

Terkait dengan Majelis Ta’lim disampaikan “Majelis Ta’lim merupakan lembaga pendidikan tertua dalam Islam. Walaupun tidak disebut majelis ta’lim, namun pengajian Nabi Muhammad SAW yang berlangsung secara sembunyi-sembunyi di rumah sahabat Arqam bin Abil Arqam ra di Mekkah, dapat dianggap sebagai majelis ta’lim menurut pengertian sekarang. Setelah adanya perintah Allah SWT untuk menyiarkan Islam secara terang-terangan, pengajian seperti itu segera berkembang di tempat-tempat lain yang diselenggarakan secara terbuka. Para wali dan penyiar Islam di Indonesia juga mempergunakan majelis ta’lim untuk menyampaikan da’wahnya. Itulah sebabnya untuk Indonesia, majelis ta’lim juga merupakan lembaga pendidikan Islam tertua. Untuk itu kami sarankan agar majelis ta’lim Nurul Huda terus meningkatkan mutu pembelajaran dan membuat pembukuan-pembukuan seperti daftar hadir dll. Dan untuk lebih tekhnisnya bisa berkoordinasi dengan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kab.Kotabaru yang terbentuk awal tahun 2013 ini” demikian harapan Abdul Haliq, S.Ag.

Dalam acara ini juga diserahkan bantuan 11 buah mushaf Al-Qur’an dan 1 buah terjemahan atas nama Kementerian Agama dan M.Natsir, S.Pd.I selaku pimpinan Majelis Taklim Nurul Huda mengucapkan terima kasih atas bantuannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s